• 8

    Aug

    Kumpul Kumpul Puisi

    * Tangisku Tanah cermin, ceritakan diriku aku adalah putri yang sendiri penuh hiasan penuh riasan tanpa tuan tapi, aku menceritakan aku memujammu dalam hati mengintipmu dari horison mataku mencuri suaramu dari dengarku merasai bau tubuhmu pernah, sekali waktu hatiku luas saat jemarimu merekatku rasaku penuh saat matamu melekatku tawaku lapang saat tawamu merekahku ceritaku panjang saat pikirmu menautku teriakku lengking saat lucumu menggelitikku segarku lama saat manjamu geliatku duniaku kecil sederhana pada dirimu semua kau biarkan, dan aku mencintanya entah mengapa saat itu waktu begitu mengerti sekarang, tak bisa ku unggah lagi itu terjadi hanya padamu jemarimu masih disini, namun hampa tak ada suaramu dari dengarku angin tak ijinkan bau mu kembali dalam sekejap saja lama ku men
  • 25

    Oct

    cuma singgah...

    lama tak bersua, selalu senang membaca diriku sendiri… :)
  • 8

    Apr

    bertahan

    sungguh, sampai saat ini aku tetap bertahan… tak ada dalam hidupku mengajarkan aku untuk berhenti, tak pernah ada. satu hal yang hidup beri kepadaku tentang kesejatian adalah bertahan. bagaimana kretifitas bekerja untuk selalu belajar mecintai hal yang sama setiap hari. entah itu pekerjaan atau orang - orang yang sama. sungguh tak ada yang berbeda, tak ada yang sama, waktu membawa kita pada konsistensi. selamat menjalankan hidup, meski tak banyak yang telah dan akan kau lakukan… yath.
  • 28

    Feb

    Hari ini dan berikutnya...

    pagi ini serasa penuh dengan sampah kemarin. ingin membuang semua sampah itu hari ini. melunasi kewajiban yang tertunda dan tak lagi menjadi batu di pikiran yang selalu menghambat jalannya air pikirku. sudah tak sabar membuangnya dan menerima balikannya. aku ingin berjalan ke tempat pemujaan sampah itu dan memberikan kata-kata yang telah aku rangkai dari kemarin dan meninggalkannya. oooh, betapa manusia mencintai yang namanya ‘melunasi kewajiban’. kerap kali jadi benalu di otak dan menggerogoti saraf. melunasi kewajiban untuk melunasi hidup saat ini. untuk apa? untuk hidup. sekarang aku berada di ruang yang tenang. mencoba mengulang kembali yang telah aku lunasi, dengan meninggalkan sedikit rasa bersalah. dalam benak tanya tertahan, apakah sudah maksimal hasilku? cukup sudah.
  • 23

    Feb

    ...dan kau tak akan tahu, kapan kau ber-umur

    tidak pernah ingat pasti, kapan kata umur itu ada. pohon dan hutan, manusia dan masyarakat. semua bertumbuh dan bertambah. mungkin, karena manusia kerap melupakan sehingga sesuatu itu diberi label, punya namanya masing-masing. dari yang nampak hingga yang nisbi. leluhur kita lebih pintar mengakali waktu. agar ia tahu bertumbuh itu tak hanya dari kecil menjadi besar. agar ia tahu bertambah itu tak hanya dari satu menjadi tak terhingga. tetapi sesuatu yang terjadi secara simultan punya tempa. satu dari kita pasti ada dalam jumlah, tetapi mungkin kita tak bisa di-sama-dengan-kan. satu satu kita tumbuh melengkapi yang banyak. setiap satu yang tumbuh punya ciri. setiap ciri men-sejati-kan manusianya. supaya teringat. karena kala umur telah di ujung senja, sang diri hanya bisa berkata “kap
  • 23

    Feb

    banjir dan kasih sayang

    musim tak menentu. hujan turun tak mengenal musim. mungkin hujan pun ingin berkata \\\”saatnya berpuas diri\\\”. banjir adalah refleksi air untuk melihat apakah saat meluap ada manusia yang tak marah dengannya? mustahil berpikir bahwa banjir tak menyusahkan. hujan yang datang pasti tak pernah mengira bahwa akan jadi banjir, bahkan saat turun pun hujan hanya jatuh dengan ikhlas di atas tanah tanpa harus banjir, bukan? lalu, refleksi apa ini? saat melihat sungai, danau atau laut dimana air melimpah luas, melihat kelapangan membawa kelapangan pula. mungkin, untuk yang suka dengan ruang luas terbuka. melihat air berada pada tempat seharusnya barangkali mengundang sejuk. air mengalir di sungai mengirim bunyi gemericik yang mengalir lambat atau tegas atau tenang. air di danau berdes
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post