Feb
28

pagi ini serasa penuh dengan sampah kemarin. ingin membuang semua sampah itu hari ini. melunasi kewajiban yang tertunda dan tak lagi menjadi batu di pikiran yang selalu menghambat jalannya air pikirku. sudah tak sabar membuangnya dan menerima balikannya. aku ingin berjalan ke tempat pemujaan sampah itu dan memberikan kata-kata yang telah aku rangkai dari kemarin dan meninggalkannya. oooh, betapa manusia mencintai yang namanya ‘melunasi kewajiban’. kerap kali jadi benalu di otak dan menggerogoti saraf. melunasi kewajiban untuk melunasi hidup saat ini. untuk apa? untuk hidup.

sekarang aku berada di ruang yang tenang. mencoba mengulang kembali yang telah aku lunasi, dengan meninggalkan sedikit rasa bersalah. dalam benak tanya tertahan, apakah sudah maksimal hasilku? cukup sudah. telah aku mencoba dengan caraku. mulai kasihan dengan otakku yang berat sebelah, beberapa jalan mulai menjadi telusur waktuku hingga malam menjemput. sudut-sudut kota menampilkan aktifitas yang bersahaja; terulang meski kadang membosankan. tetapi bosan itu perkara rasa dan waktu. saat ini rasaku tersenyum menatapnya, waktu juga tak lekang mengulangnya. melintasi depan pasar tradisional yang menyimpan sejarah. ada masa lalu yang begitu lekat didalamnya. entah sisinya yang kelam akan ruang yang berbeda dari sekitarnya yang penuh dengan bangunan megah yang menohok langit. entah karena orang selalu mengunjunginya tanpa harus merasa bahwa masa lalu itu lekat. dimensi yang berbeda menurutku; bisa berada dalam waktu yang berdekatan dengan masa lalu dan masa sekarang. tanpa mempermasalahkan usang dan kumuhnya tempat itu, toh masa sekarang sajalah yang dinikmati pembelinya. meski rubuhnya entah kapan, tak ada yang peduli. entah kapan itu terbakar, semua berjalan kedepan.

melihat-mengamati semua yang ada-meresapi semua bentuknya dalam aliran pikirku, melahirkan senyumku yang tak henti. jalan yang panjang dan bersisian ini mengungkapkan bentuk lain pula. betapa semrawutnya jalan aspal ini, meski lorong kecil, tempat tikus sekalipun, semua arah itu menuju kepada siapa dirimu akan pulang. semampet-mampetnya jalan itu, betapapun kau tersesat, jalan itu penunjuk arahmu pulang. ingat, jalan tak akan membuatmu tersesat. jalan hanya kadang membawamu menuju tempat yang asing. setelah itu akan selalu ada jalan bertemu tujuan.

mengukur kota selesai, saatnya bertemu teman yang menunggu tuk berbagi tawa. tetapi aku juga merindukan rumah. apa gerangan yang dilakukannya saat ini..

selalu kembali,..

selalu kembali,..

Feb
23

tidak pernah ingat pasti, kapan kata umur itu ada. pohon dan hutan,  manusia dan masyarakat. semua bertumbuh dan bertambah. mungkin, karena manusia kerap melupakan sehingga sesuatu itu diberi label, punya namanya masing-masing. dari yang nampak hingga yang nisbi. leluhur kita lebih pintar mengakali waktu. agar ia tahu bertumbuh itu tak hanya dari kecil menjadi besar. agar ia tahu bertambah itu tak hanya dari satu menjadi tak terhingga. tetapi sesuatu yang terjadi secara simultan punya tempa. satu dari kita pasti ada dalam jumlah, tetapi mungkin kita tak bisa di-sama-dengan-kan. satu satu kita tumbuh melengkapi yang banyak. setiap satu yang tumbuh punya ciri. setiap ciri men-sejati-kan manusianya. supaya teringat. karena kala umur telah di ujung senja, sang diri hanya bisa berkata “kapan saya akan habis teringat dari jagat ini?”.

tidak pernah ingat pasti, kapan umur itu ada. mengulang tahun justru aku bertumbuh. meniup lilin yang tak pernah menyala. karena yang ada hanya lilin di hati. damai dalam hening. tak mengapa meriah yang kudamba dulu kini redup. toh, hidup memang telah berubah. celoteh kini hanya untuk tertawa. tertawa pada kini. lilin itu kini menjelma mitos. masa kecil memang kadang dimanipulasi. agar kau senang. saat nanti menjelang siang, tak perlu terik menyengat, ada sadarmu jadi pelindung yang rindang. ingatlah kini, ingatlah nanti, meski sesaat, cuma sesaat yang bisa abadi. hiduplah penuh dengan kini, saat ini. dalam nafasmu, dalam kata, dalam tubuh, dalam niat, dalam sekitarmu. dan kau tak akan tahu, kapan kau ber-umur.

disini ada lilin, tetapi bukan untuk merayakan umur. lilin untuk menyala sampai habis terang. habis karena telah merayakan hidup.

selamat, masih bisa hidup :P

sumber http://pandasurya.files.wordpress.com
Category: daname  2 Comments
Feb
23

musim tak menentu. hujan turun tak mengenal musim. mungkin hujan pun ingin berkata \\\”saatnya berpuas diri\\\”. banjir adalah refleksi air untuk melihat apakah saat meluap ada manusia yang tak marah dengannya? mustahil berpikir bahwa banjir tak menyusahkan. hujan yang datang pasti tak pernah mengira bahwa akan jadi banjir, bahkan saat turun pun hujan hanya jatuh dengan ikhlas di atas tanah tanpa harus banjir, bukan? lalu, refleksi apa ini?

saat melihat sungai, danau atau laut dimana air melimpah luas, melihat kelapangan membawa kelapangan pula. mungkin, untuk yang suka dengan ruang luas terbuka. melihat air berada pada tempat seharusnya barangkali mengundang sejuk. air mengalir di sungai mengirim bunyi gemericik yang mengalir lambat atau tegas atau tenang. air di danau berdesir menggulung atau beriak lembut atau diam. pun laut. melihat dan merasakan sesuatu pada tempatnya secara alamiah adalah suatu keniscayaan. semestinyalah keadaannya demikian.

kemudian, bagaimana dengan hujan yang turun terus berubah banjir? kesalahan jelas pada manusia. cuma ya kita sering merasa masa bodoh. karena kasih sayang kita tidak sampai disitu. kasih sayang kita memang banyak berbau materi. tetapi sebatas pada barang yang kita sayangi saat masih bagus dan nyaman. setelah barang kita usang dan tak nyaman lagi, kemana kiranya tempat kembalinya. sampah yang menumpuk adalah bukti bahwa memang manusia pilih kasih. habis manis sepah dibuang. saat dibuang banyak sampah tak berada di tempatnya. bukti bahwa kesenangan kita memang hanya pada barang bagus. meskipun sebenarnya, siapa yang mau sayang sampah?

banyak yang menyebabkan banjir terjadi. tetapi sampah adalah salah satu yang menjadi fokus. kenapa? sampah adalah kawan akrab kita, setiap saat kita bersamanya. entah itu tisu, bungkusan makanan, kotak soft drink, bungkus permen, abu rokok, puntung rokok, asap rokok–ini sampah mengudara, dan banyak lain sebagainya. sampah organik utamanya. sampah menjadi masalah, banjir menjadi masalah, pemda yang tak tanggap bencana menjadi masalah. terlalu lama kita  berkubang masalah. kapan kita mulai lepas dari masalah dan belajar dari kesalahan. kita individu yang memiliki daya cipta dan kreasi. pada dasarnya itu ada pada kita semua. yang orang pintar bilang, kita ini homo faber. hanya saja jika individu tak dilandasi lagi oleh kasih sayang, compassion, rasanya akan beda.

kasih sayang adalah kesadaran. kesadaran yang kita miliki karena kita tahu mengapa kita menyayangi. kita makan karena makanannya mengundang selera ingin makan meski tak lapar. fakta bahwa manusia menyayangi dirinya maka perlu makan makanan yang sesuai dengan seleranya. yang membuatnya senang saat makan. berbeda dengan makan sebagai kebutuhan tubuh. saat lapar kita makan saja menyesuaikan kebiasaan. dalam artian kasih sayang ini terkontrol. mengapa terkontrol? setiap kita menginginkan sesuatu, sudah tentu menyayanginya.  sulitnya, mengontrol kasih sayang pada hal yang tak biasa. bisa-bisa mendatangkan kebosanan atau jengah.

pada saat ditanya, apakah kalian menyayangi sampah??? gila. sampah pake disayang-sayang segala. khawatir ga dengan keadaan banjir ini karena sampah? jawaban menggantung dan sepi. lalu tiba-tiba, khawatiiiiiiiiiir…. lalu, kalau peduli mengapa tak sayang?  mata berkedip cuma bisa saling pandang bertanya ke dalam diri. ketika menyadari sesuatu mengancam kita lalu berlomba menjadi relawan kepepet. saran saya, jangan selalu terpepet. itu kesadaran gelembung, sayangnya pada orientasi spasial, sesaat, indikasi ke depan cepat merasa puas. seperti yang saya sebut diatas, habis manis sepah dibuang.  atau dengan bijak mari kita sebut dengan habis manis pas dibuang pada tempatnya.

kesadaran adalah ruang dimana kita mengamati kondisi dengan selalu membawa dampaknya kembali pada diri kita. mengalirkan masalah disekitar kita sebagai mata air keheningan. mulai dari diri sendiri, melihat kita sebagai yang susah saat banjir datang. saat susah kita mencari cara menghindari kesulitan. tetapi tak selesai apabila tetap pada kesalahan yang sama. harus ada yang dilakukan. mulai dari hal kecil, membuang sampah pada tempatnya. meski masih sering banjir, ini akibat jangka panjang yang terjadi karena ketidaktanggapan dari masa lalu. jika saat ini kita telah memilih jalan yang tepat maka saat datang kita menuai hasil yang lebih baik. maka dari itu segeralah sadar dan mulai dari sekarang, kata AA Gym :)

kelak kasih sayang yang kita punya muncul dari hasil perenungan kita dari pembelajaran. menyeimbangkan kasih sayang itu adil. kita menginginkan lingkungan bersih tetapi sampah selalu dicibir dan dipandang sebelah mata karena merusak pemandangan. saatnya menempatkan sampah pada tempatnya dan mengelolahnya dengan tepat. kasih sayang pada diri, kebersihan, persampahan dan kekinian akan berjalan dengan rapi. semoga kasih sayang kita senantiasa pada hal yang membahagiakan… Amin.

Feb
23

terimakasih, untuk sesaat

pada kehilangan yang tak pernah ada

karena semua telah tertulis

kau akan datang dan lalu kembali

terimakasih, untuk sesaat

pada hadir yang jadi hadiah

karena sekarang segera jadi tadi

terimalah kemarin untuk esok

terimakasih, untuk sesaat

angin mengejar angin

menyejukkan seluruh ruang

tempat dimana kita berpadu

terimakasih, untuk sesaat

pada hal kecil yang selalu berubah

dan setia yang menyertai

karena \’mungkin\’ adalah masa depan

kita tidak pernah tahu

terimakasih, untuk sesaat

kala menunggu adalah anugerah

yang terasa panjang membosankan tapi berujung manis

dan pahit,… akankah tahu?

jika kini cuma ada sepi, sayangilah

jika cuma ada kamu, berpuisilah

jika bahasa hilang, tinggallah di diam.

Jan
07
Sejak kecil yang aku benci adalah menunggu. Entah mengapa setiap Ibu menyuruh menunggu aku sakit pikiran. Ingin agar segera terwujud dan menjadi cepat. Tak usah memakan waktu lama untuk mencairkan waktu biar segera sampai. Sejak SD sampai SMU, menunggu bis sekolah di pagi hari akan terasa mencemaskan saat ujian harian tiba lebih awal ketimbang hari biasa. Karena rasa takut meliputi. Takut telat, takut terburu-buru, takut gerbang sekolah tertutup, takut kalau terlambat; bertemu guru BP dan isi buku kuning lagi…… dan sekawanan takut lainnya.

Peraturan yang dibuat membuatku takut. Rasanya tak ada gunanya membuat aturan itu jika memang hanya untuk dilanggar. Karena semua orang akan belajar dengan instingnya masing-masing. Belajar tentang bagaimana menghindari kesalahan dan mencipta kebenaran. Waktu masih SD aku juga sudah belajar melanggar aturan. Upacara selalu lupa bawa topi dan dasi. Dijemur dan berdiri di depan kelas adalah etalaseku tiap senin. Ibu tak pernah tahu. Surat panggilan tak pernah sampai ditangannya. Aku sobek-sobek dan buang di selokan depan rumah. Aku takut dapat marah Ibu.

Menginjak remaja, SMP menjadi bangku yang sangat menghukumku. Tiap hari pakai dasi ke sekolah, sesuatu yang sangat menyesakkan. Katanya mencontoh salah satu sekolah terbaik di Jawa yang muridnya tiap hari mengenakan dasi. BUSSSET! Mana panas dan gerah, sekolah sampai pukul empat sore belum lagi les bikin badan terasa dipanggang. Aku mengutuk sekolah terbaik itu karena memberikan contoh yang tak baik bagi kami yang tak biasa berdasi. Aku mengejek guruku yang mau saja diperbudak dengan aturan tak baku itu. Mungkin saja itu kumpulan orang-orang yang mau sejajar dengan orang kantoran yang tiap pagi rapi berdasi. Padahal hanya menjual kehormatan formalitas. Aku sudah mengakrabi ketakutan.

Menginjak SMA, rupa ketakutan itu berubah menjadi kegembiraan. Kenakalan remaja kata orang-orang tua. Ada kesenangan tersendiri yang kami dapatkan jika guru selalu mencari kami. Alias biang kerok. Jadi langganan guru BP sudah biasa. Justru guru BP senang mendapatkan teman ngobrol. Mungkin karena guru BP sering kesepian di ruangannya. Maklum, guru satu ini tak merangkap-rangkap jabatan. Hingga akhirnya aku mendapatkan tempat yang baik untuk membolos. Di ruang BP. Mengobrol sampai aku bosan. Guru BP kompak habis. Katanya, asal aku tidak keluar wilayah sekolah. Sekali-kali patuh, seterusnya melanggar lagi.

Masuk ke perguruang tinggi, ketakutan itu justru sama sekali tak ada. Aku bebas. Suka menjalankan apa yang aku suka. Aku bebas aturan. Mau kuliah dan tak kuliah sisa pilih waktu kapan aku mau. Ikut kegiatan bejibun hingga lupa waktu, ternyata aku masih mahasiswa sampai tujuh tahun. Ck ck ck ck ck, it is selfish thing.

****

Transformasi perjalanan ketakutan akan berubah menjadi kenekatan. Selang berlanjut akan menjadi keberanian. Melanggar aturan membuatku tak merasa dangkal. Karena aku telah terbiasa menyiasati kesalahan. Ini menjadi proses yang aku sadari sebagai progres yang sangat baik. Awal yang membuat aku tak mau menunggu membuatku melawan jarak tunggu. Ada banyak dungu yang diciptanya. Karena menunggu dengan kedunguan berarti berteman dengan kedunguan. Dan aku tak mau berada dalam jebakan waktu yang menyeret pada kebodohan. Yang akan membuatku lebih banyak meng-“alami” daripada membuat keputusan untuk berbuat. Menjebak dalam keraguan dan dihantui resah. Entah siapa yang tahan dengan menunggu.

Ketakutanku menunggu hingga saat ini berbuah jeda. Rentang yang mengajarkan tentang kedewasaan bahwa menunggu itu adalah anugerah. Ya, dengan apa yang kamu temukan sekarang. Dan semua itu adalah proses yang harus aku bayar mahal dengan menunggu. Aku benci menunggu, tapi bukan berati aku tak mau menunggu. Aku menunggu pada jawaban-jawaban hidup yang datang silih berganti seperti puzzle yang bergerak acak tapi simultan. Gerak itu yang membawaku sampai disini.

Penunggu, jika memang tak benar betul waktu mengerjaimu selama ini, hanya ada satu kalimat yang aku ingin sampaikan. Itu tak mudah, dan mudah itu mulai tak gampang saat usia beranjak dewasa….

Jan
07

dulu, aku tahu kau romantis
banyak kejutan bunga kau beri diwaktu tak terduga
kau menjadi hiasan diujung mataku
agar tiapku lelah, ada kau tempatku pulang

kini, kau ada dalam genggamanku
tetapi aku ragu, apakah kau benar apa adanya
ketika telah biasa kita bersama, dirimu memudar
adakah yang salah dengan mataku melihatmu?

lalu, kau ternyata peragu
mantap menatapmu tak seperti menggenggam jarimu
kadang lepas dan kadang erat
aku mendapatkanmu di belantara antara

pernah, kau ada disini bersamaku
mendengar hati kita yang ngilu ritmis
menebak esok dan menyelimuti takut
seakan tak akan jadi pernah

kutahu, dirimu cuma mencoba
ku tarik semua waktu yang ada
merobeknya dengan kutukku
kemudian kubenci, pada puisi yang kau buat!

Category: puisi  Leave a Comment